Tasikmalaya, Hari Raya Idul Adha, atau yang lebih dikenal sebagai Hari Raya Kurban, adalah salah satu perayaan besar dalam kalender Islam. Ia tak hanya menjadi simbol ketakwaan dan ketaatan hamba kepada Sang Pencipta melalui ibadah penyembelihan hewan kurban, tetapi juga perwujudan nyata dari semangat berbagi, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Di setiap tetes darah hewan kurban yang mengalir, terkandung doa, harapan, dan janji kebersamaan. Namun, bagi Yayasan Rumah Pembangunan Berkelanjutan (Bisa Baik Bersama), makna kurban jauh melampaui ritual semata. Mereka menyebutnya “Beyond Qurban 2025”, sebuah inisiatif yang tidak hanya berfokus pada penyempurnaan ibadah, melainkan juga pada upaya nyata berbagi kebahagiaan dan memperkuat ketahanan pangan di tengah masyarakat, khususnya di desa-desa terpencil.
Tahun ini, gaung kebaikan “Beyond Qurban 2025” bergema hingga ke pedalaman Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Desa Cikoranji dan Desa Nanggewer, Kecamatan Pagerageung. Wilayah ini, dengan sebagian besar penduduknya yang bergantung pada sektor pertanian dan peternakan skala kecil, seringkali menghadapi tantangan akses dan ekonomi yang membatasi kemampuan mereka untuk menikmati pangan bergizi, terutama protein hewani.
Makna Qurban yang Melampaui Batas
Ibadah kurban adalah warisan Nabi Ibrahim AS, sebuah manifestasi keikhlasan dan pengorbanan yang tak terhingga. Daging kurban adalah simbol berkah yang harus dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, memastikan bahwa kebahagiaan Idul Adha dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Namun, bagi Bisa Baik Bersama, “Beyond Qurban” berarti melihat lebih jauh. Ini adalah upaya untuk:
- Meningkatkan Gizi dan Kesehatan: Di banyak desa terpencil, akses terhadap protein hewani segar masih menjadi kemewahan. Daging kurban menyediakan asupan gizi penting yang jarang mereka dapatkan.
- Memperkuat Ketahanan Pangan Lokal: Distribusi daging kurban membantu diversifikasi pangan dan mengurangi beban ekonomi keluarga, meski untuk sementara, dalam memenuhi kebutuhan gizi.
- Menjalin Silaturahim dan Kebersamaan: Proses penyaluran yang langsung dan personal mempererat ikatan antara pemberi, pelaksana, dan penerima.
- Memberikan Kehormatan dan Dignitas: Bantuan diberikan dengan cara yang menghargai martabat penerima, bukan sekadar sedekah, melainkan hak yang mereka terima.
Jejak Kebaikan di Cikoranji dan Nanggewer
Desa Cikoranji dan Desa Nanggewer di Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, merupakan desa-desa yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani atau buruh tani dengan penghasilan yang pas-pasan. Akses transportasi yang tidak selalu mudah dan keterbatasan informasi membuat mereka seringkali terluput dari berbagai program bantuan. Kondisi ini membuat mereka sangat membutuhkan uluran tangan, terutama untuk kebutuhan pangan yang berkualitas.
Bisa Baik Bersama, dengan jaringan relawan dan tim lapangannya, telah melakukan asesmen awal untuk memastikan bahwa lokasi dan penerima manfaat yang dipilih adalah yang paling tepat sasaran. Komitmen ini selaras dengan pendekatan holistik yayasan dalam setiap programnya, memastikan dampak yang optimal.
Untuk “Beyond Qurban 2025” ini, Bisa Baik Bersama berhasil menyalurkan 3 ekor domba sebagai hewan kurban. Jumlah ini mungkin terlihat sederhana di mata sebagian orang, namun bagi 50 Kepala Keluarga (KK) penerima manfaat di kedua desa tersebut, setiap potong daging adalah anugerah yang tak ternilai.
Proses Kurban yang Amanah dan Transparan
Pelaksanaan ibadah kurban oleh Bisa Baik Bersama dilakukan dengan penuh amanah dan mematuhi seluruh syariat Islam serta standar kebersihan dan kesehatan.
- Pemilihan Hewan Kurban: Domba-domba yang dikurbankan dipilih secara cermat, memastikan bahwa hewan dalam kondisi sehat, cukup umur, dan memenuhi syarat syariat. Proses ini melibatkan ahli dan peternak lokal untuk memastikan kualitas terbaik.
- Penyembelihan: Dilakukan oleh juru sembelih terlatih (jagal) yang memahami syariat Islam, di lokasi yang bersih dan higienis.
- Pengolahan dan Pengemasan: Daging kurban segera diproses, dipotong, dan dikemas secara higienis dalam porsi yang proporsional untuk didistribusikan. Hal ini sangat penting untuk menjaga kualitas daging dan mempermudah penyaluran.
- Distribusi Langsung: Relawan Bisa Baik Bersama turun langsung ke Desa Cikoranji dan Desa Nanggewer. Dengan penuh semangat, mereka mendatangi rumah ke rumah para penerima manfaat, memastikan setiap paket daging sampai ke tangan yang berhak. Pendekatan personal ini menciptakan ikatan emosional dan rasa hormat yang mendalam antara pemberi dan penerima.
“Kami datang langsung ke sini agar tidak ada kesulitan bagi warga. Melihat senyum mereka saat menerima daging kurban adalah kebahagiaan tersendiri,” ujar salah satu relawan Bisa Baik Bersama yang terlibat dalam distribusi ini.
Daging Kurban: Lebih dari Sekadar Lauk Pauk
Bagi 50 KK di Desa Cikoranji dan Desa Nanggewer, daging kurban yang mereka terima adalah rezeki yang jarang mereka nikmati. Di daerah pedesaan, konsumsi daging, terutama daging segar, seringkali terbatas oleh harga dan ketersediaan. Paket daging kurban ini berarti:
- Asupan Protein: Meningkatkan asupan protein hewani yang esensial untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga stamina orang dewasa, yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
- Variasi Pangan: Menambah variasi hidangan di meja makan mereka, terutama di momen spesial Idul Adha.
- Kegembiraan Hari Raya: Memungkinkan mereka merasakan semarak Idul Adha dengan menyajikan hidangan lezat berbahan dasar daging, layaknya masyarakat pada umumnya.
- Pengurang Beban Ekonomi: Meskipun sementara, ketersediaan daging ini mengurangi beban pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan, sehingga dana bisa dialokasikan untuk kebutuhan mendesak lainnya.
“Anak-anak saya jarang sekali makan daging. Lebaran ini, alhamdulillah, bisa merasakan nikmatnya. Terima kasih banyak kepada Bisa Baik Bersama dan para pekurban,” ucap Ibu Yani, seorang ibu rumah tangga dari Desa Nanggewer, matanya berkaca-kaca menahan haru.
Bisa Baik Bersama: Komitmen Pembangunan Berkelanjutan
Program “Beyond Qurban 2025” ini adalah refleksi nyata dari komitmen Yayasan Rumah Pembangunan Berkelanjutan. Dengan visi “Membangun dunia yang lebih baik melalui pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” dan misi yang berfokus pada akses sumber daya, pendidikan inklusif, bantuan bencana, serta prioritas hak asasi manusia dan kesejahteraan individu, Bisa Baik Bersama secara konsisten menjalankan berbagai program multi-sektoral.
Dari program “RISE TOGETHER” yang memberdayakan ekonomi komunitas, “HEALTHY & SMART TOGETHER” yang mengatasi masalah gizi dan kesehatan, “SCHOOL OF THE FUTURE” yang berinvestasi pada pendidikan teknologi, hingga “DISASTER RESPONSE TOGETHER” yang sigap merespons bencana alam; setiap inisiatif mereka adalah langkah konkret menuju Indonesia yang lebih sejahtera dan berkeadilan. Program kurban ini secara langsung mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDG 1 (Tanpa Kemiskinan).
Melangkah Lebih Jauh Bersama: Ajakan untuk Terus Berkontribusi
Pelaksanaan “Beyond Qurban 2025” telah selesai, meninggalkan jejak kebahagiaan dan keberkahan di Desa Cikoranji dan Desa Nanggewer. Namun, semangat berbagi dan kebutuhan untuk terus berbuat baik tidak pernah berakhir. Ada banyak lagi desa-desa terpencil, banyak lagi keluarga yang membutuhkan uluran tangan di berbagai penjuru Indonesia.
Qurban kali ini bukan sekadar ibadah, tapi upaya nyata berbagi kebahagiaan dan ketahanan pangan untuk masyarakat desa. Ini adalah panggilan untuk melihat lebih jauh, bertindak lebih, dan memberikan dampak yang lebih besar.
Bersama Bisa Baik Bersama, kita bisa terus melangkah lebih jauh. Mari terus dukung program-program mereka yang berkelanjutan. Setiap donasi, setiap dukungan, adalah investasi pada masa depan yang lebih cerah, di mana setiap individu memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat, berdaya, dan merasakan kebahagiaan sejati. Bergabunglah dengan Bisa Baik Bersama dalam menulis kisah-kisah kebaikan yang tak terbatas.


Bulan suci Ramadhan selalu menjadi musim yang dinanti-nanti. Di setiap rumah Muslim, ada gairah baru: lantunan ayat suci yang lebih sering terdengar, semangat beribadah yang meningkat, dan kehangatan persiapan menyambut Idul Fitri. Namun, bagi sebagian besar saudara-saudari kita di pelosok negeri, apalagi bagi mereka yang bergelut dengan keterbatasan, Ramadhan bisa menjadi bulan yang penuh ironi. Di satu sisi, ia membawa janji berkah dan ampunan; di sisi lain, ia juga menyoroti kebutuhan yang tak terpenuhi, seakan menguji keteguhan hati dalam menghadapi tantangan hidup.







